Gadis Kecil Pincang Itu Ternyata Roh Halus - Misteri

Breaking

Senin, 01 September 2025

Gadis Kecil Pincang Itu Ternyata Roh Halus

 Bagian 1

Gambar Hanylah Ilustrasi



Liburan sekolah tahun ini, Riza, Apdil, Sinta, dan Soni,
berlibur ke sebuah kampung di Kuningan. Kita sebut saja kampung
Cihanjuang. Di sana keluarga Riza punya rumah besar yang biasa
dipakai berlibur setiap tahunnya. Di rumah itu ada dua air terjun.
Orang lebih mengenalnya dengan sebutan curug kembar. Kedatangan Riza
dan tema-temannya langsung disambut oleh Bah Samaun dan Bi Puri,
kedua pembantu setia pak Kadil, ayah Riza.

Saat sampai ke sana, Riza, Apdil dan Sinta langsung masuk ke
rumah. Sedangkan Soni masih diam termenung di luar.
Bi Puri heran, lalu menghampiri Soni dan bertanya. “Kenapa malah
bengong, den..? Ayo masuk..! Bibi sudah nyiapin makan.. Aden pasti
capek.. Ayo makan dulu.” Kata Bi Puri.

“Nanti dulu, bi.. Tadi sebelum ke sini, aku jalan-jalan dulu di
sekitar Curug. Aku merasakan ada hal yang aneh.” Jawab Soni. Bi Puri
bertanya, “ Apanya yang aneh, Den?”

Soni lalu bercerita, pas datang ke sini, dia dan yang lainnya
tidak langsung ke rumah, karena Riza mengajak jalan-jalan dulu ke
Curug. Tapi saat mau pulang, di dekat air terjun, tiba-tiba dirinya
mendengar ada anak kecil yang menangis. Anehnya, teman-teman yang
lain tak seorangpun yang mendengarnya. Soni sempat penasaran mau
melihat. Tapi Riza, Apdil dan Sinta keburu jauh. Sonipun akhirnya
tidak jadi dan mengejar mereka.


 “Sampai sekarang suara anak menangis
itu masih terngiang-ngiang, bi. Masa sore-sore begini masih ada anak
kecil di sana. Jangan-jangan ditinggalin oleh orang tuanya. Kasihan
sekali ya bi?”

Mendengar cerita Itu, Bi Puri tampak pucat. Jantungnya terasa
berdebar. Soni heran melihatnya. “Kenapa, Bi..? Kok sepertinya
kaget?” 

Bi Puri tersentak. Dia mencoba menyembunyikan perasaanya. Bi
Puri cari-cari alasan tak mau membahas lagi soal itu. Dia kembali
menyuruh Soni masuk. Akhirnya Sonipun masuk.
Sementara itu, Riza, Apdil, dan Sinta, sudah bersiap-siap untuk
makan. Soni muncul, tapi dia tidak ikut duduk bersama mereka. Riza
merasa aneh. Lalu mengajak Soni segera makan. Apdil bilang agar Riza
tidak peduli soal Soni. Memang dia sifatnya seperti itu.

Soni menemui Bah Samaun, menanyakan di mana kamar mereka. Samaun
menunjukannya. Soni segera masuk ke kamar itu. Ternyata jendela
kamar itu menghadap ke Curug. Perasaan Soni terdorong untuk melihat
keadaan di luar lewat jendela. Meskipun agak samar, tapi keadaan di
air terjun bisa terlihat dengan jelas. Tampak olehnya, seorang gadis
kecil berkaki pincang sedang duduk sendirian.

Soni merasa iba. Dia lalu keluar lagi. Riza dan yang lainnya
masih pada makan. Soni berjalan terburu. Riza makin heran dengan
sikap Soni. Tapi lagi-lagi Apdil bilang agar Riza tidak
mempedulikan Soni. Merekapun akhirnya tak peduli. Usai makan Riza
dan yang lainnya lalu bermain PS atau permainan lainnya yang sudah
tersedia.

Saking asiknya bermain game, tak terasa waktu sudah menunjukan
jam 11 malam. Soni belum juga pulang. Riza dan teman-temannya mulai
kuatir. Jangan-jangan terjadi sesuatu sama Soni, atau dia tersesat.
Anak-anak itupun lalu pergi mencari Soni.

Kebetulan sekali saat itu bulan purnama. Keadaan di luar tampak
terang. Mereka tak perlu membawa lampu senter. Riza, Apdil, dan
Sinta menyusuri semua pelosok Curug mencari-cari Soni. Tapi tidak
menemukannya juga. Riza dan yang lainnya makin cemas.

Waktu sudah menunjukan jam 12 malam. Tapi belum ada tanda-tanda
dimana Soni berada. Riza dan yang lainnya mulai putus asa. Tiba-tiba
terdengar suara lolongan anjing di kejauhan. Suaranya melengking
menimbulkan aroma seram. Riza dan yang lainnya merasa merinding,
terutama Sinta. Dia segara ngajak pulang. Riza bingung, karena Soni
belum juga ditemukan.

Tiba-tiba “Korosak..!” terdengar suara dari balik semak-semak.
Riza dan yang lainnya kaget. Dada mereka berdebar. Bulu kudukpun
berdiri. Sinta nampak sangat paling ketakutan, mengira ada hantu.
Tak lama kemudian muncul seekor kucing dari balik semak-semak.

“Dasar kucing sialan.. Bikin aku kaget saja,” kata Apdil.

Suara-suara lain, seperti burung hantu atau binatang lainnya
terus terdengar, menambah suasana semakin seram. Sinta semakin
tambah ketakutan. Riza akhirnya memutuskan untuk pulang. Soal Soni
biar dicari saja besok. Akhirnya merekapun pulang.

Paginya, Riza dan yang lainnya sudah pada bangun. Riza bercerita
kalau dirinya bermimpi seram, didatangi oleh hantu anak gadis
berkaki pincang. Anehnya, mimpi yang dialami Apdil dan Sinta juga
sama. Mereka semua heran. Jangan-jangan itu adalah hantu yang
dantang ke impian mereka. 

Dari balik dinding, Bi Puri menguping pembicaraan mereka. Tampak wajah pembantu itu sangat sedih.
Riza dan yang lainnya teringat lagi pada Soni. Mereka semua
sangat cemas. Anak-anak itu mau pergi lagi untuk mencari Soni. Tapi
baru juga mau keluar, Soni sudah keburu datang. Riza bertanya, Soni
menjawab kalau dia menginap di rumah teman barunya bernama Febi.

“Lain kali kalau mau pergi bilang-bilang.. Bikin semua orang
cemas saja..” kata Apdil, kesal. Soni minta maaf. Dia tak sengaja
merepotkan teman-temannya. Abisnya dia kasihan sama Febi yang tidur
sendirian di rumahnya.

Seperti rencana sebelumnya, Riza selanjutnya mengajak teman-
temannya berenang. Soni tidak mau ikut. Katanya dia sudah kepalang
janji sama Febi mau main lagi ke rumahnya. Apdil yang sudah faham
sifat Soni tidak peduli. Akhirnya anak-anak itu pergi tanpa
dibarengi oleh Soni.

Setelah sarapan pagi, Soni pergi lagi sendirian, tujuannya ke
rumah Febi. Ternyata Febi (kakinya pincang) sudah menunggu di air
terjun. Soni senang. Merekapun akhirnya bermain berdua, tampak
sangat asik. Febi minta dipoto. Soni lalu memotonya dengan
menggunakan kamera HP. Selanjutnya, Febi mengajak Soni bermain di
rumahnya. Di sana Soni kembali photo photo.

Soni bertanya, kenapa Febi tinggal sendirian di rumah. Kemana
ayah ibunya. Febi tampak sedih lalu bercerita, bahwa orang tuanya
bekerja sebagai pembantu rumah tangga. Tinggalnya di dekat sini,
tapi tidak mau peduli sama dia. Soni heran, masa sih rumah mewah
seperti ini pemiliknya hanya bekerja sebagai pembantu. Selain itu
kok tega ninggalin anak gadisnya sendirian di rumah?. Begitulah
pertanyaan dalam hati Soni.

Melihat Soni diam, Febi ngajak Soni bermain lagi, main Game atau
permainan anak lainnya. Mereka tampak asik hingga lupa waktu sudah
sore. Sonipun pamit pulang. Febi meng-iyakan, dan meminta Soni untuk
bermain lagi besoknya. Soni mengangguk lalu pergi.

Sesampainya di rumah, ternyata Riza, Apdil dan Sinta sudah
datang. Apdil bilang kalau mereka sangat asik bermain di kolam
renang. Airnya jernih, banyak ikannya. Pokoknya, mereka betah
bermain di sana. Sonipun tak mau kalah. Dia juga bercerita soal
Febi, teman barunya. Anaknya baik, rumahnya gede, mewah. maenannya
banyak. Dia bebas bermain di sana, karena orang tuanya tidak ada.
Riza merasa tertarik.

 “Kalau begitu, besok kita sama-sama main ke
sana”. Yang lainnya setuju.

Malamnya, karena lelah, anak-anak itupun bisa cepat tidur.
Kecuali Soni yang tampaknya belum datang rasa kantuknya. Waktu sudah
hampir jam 12 malam, Soni tampak masih asik bermain game komputer
yang sudah di sediain di kamar itu. Tiba-tiba, samar-samar terdengar
suara anak gadis yang sedang melantunkan tembang di kejauhan. Soni
penasaran, membuka jendela. Tenyata yang sedang bernyani itu adalah
Febi. Anak itu sedang duduk sendirian di dekat air terjun.
Soni heran. 

“Kok malam-malam begini Febi masih bermain. Tapi
bagus juga. Aku belum bisa tidur. Sebaiknya aku temani saja dia.”

Diam-diam Soni lalu keluar rumah. Soni terus berjalan menyusuri jalan setapak menuju air terjun.
Entah kenapa, mendadak dia merasa seram. Bulu kuduknya berdiri. Soni
sempat punya fikiran mau balik lagi. Tapi tiba-tiba terdengar suara
Febi menangis. Soni kaget. Akhirnya walaupun merasa takut, Soni
memaksakan diri menemui Febi.

Soni sudah sampai di air terjun. Tampak Febi sedang duduk dia
atas sebuah batu sambil menangis. Wajahnya yang pucat terlihat jelas
terkena sinar bulan. Soni menghampirinya dan bertanya. Febi
menjawab, katanya, sekarang dia sedang sedih meratapi nasibnya.
Setiap kali dia merasa sedih, pasti main ke tempat ini.

 “Tapisekarang kan sudah malam. Gimana kalau ada hantu?” kata Soni.

 Tiba tiba Febi menatap beringas ke arah Soni. “Jangan sekali-kali menyebut
kata itu.. Aku paling tidak suka.” Kata Febi. 

Soni kaget karena Febi marah. Diapun minta maaf. Soni kemudian menghibur Febi. Dia kembali
photo-photo. Ternyata Febi sangat suka itu.

Tak terasa waktupun sudah menjelang pagi. Dari kejauhan
terdengar suara beduk. Febi terperanjat, dan bilang, sudah waktunya
dia pulang. Tanpa mendengar jawaban Soni, Febi langsung pergi. Soni
melongo. Lalu berteriak, bahwa besok siang dia dan teman-temannya
akan bermain ke rumah Febi. Tapi Febi diam saja, dan terus berjalan.
Sonipun akhirnya pulang.

Bersambung.....

Tidak ada komentar:

Posting Komentar